Diberdayakan oleh Blogger.

Biro Travel Biaya Harga Paket Umroh Murah Promo Desember 2017 dan 2018 Jakarta

0811 450 7171 | HAJI PLUS BERANGKAT 2017

SAFANA TOUR travel haji umroh resmi depag menyelenggaran program haji plus non kuota khusus, memberi solusi berangkat haji tanpa antrian panjang. Perjalanan haji yang aman dan nyaman dengan fasilitas hotel bintang 5 dan biaya lebih hemat. 

Biaya haji plus khusus $ 13.500 (quard) By Saudia
Fasilitas Hotel Bintang 5
untuk perjalanan haji plus 25 hari

paket haji plus

INFORMASI BIAYA PAKET HAJI PLUS NON KUOTA KHUSUS 2017 


TATA CARA MANASIK HAJI SESUAI SUNNAH RASULULLOH SAW :

Menunaikan ibadah haji ke tanah suci adalah merupakan Rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadi dambaan setiap muslim. Predikat ‘Haji Mabrur’ yang tidak balasan baginya kecuali Jannah (surga) tak urung menjadi target utama dari ibadah haji ini. Namun, mungkinkah semua yang berhaji ke Baitullah bisa mendapatkannya ? Tentu jawabannya mungkin, jika terpenuhi 2 syarat:

1. Dilakukan dengan benar-benar ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena mencari sanjungan atau ingin menyandang gelar ‘bapak haji’ atau ‘Ibu haji/hajjah’.

2. Dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Ibadah haji ada tiga jenis, yaitu; Haji Tamattu’, Haji Qiran, dan Haji Ifrad. Bagi masyarakat Indonesia, haji yang paling afdhal adalah haji Tamattu’. Hal ini dikarenakan mayoritas masyarakat Indonesia tidak ada yang berangkat ibadah haji dengan membawa hewan qurban. Alhamdulillah, mayoritas jamaah haji Indonesia melakukan ibadah haji dengan jenis haji tersebut. Untuk  itu akan sangat tepat bila pembahasan kita lebih difokuskan pada tatacara melaksanakan haji Tamattu’.

Jamaah haji dari Indonesia, menurut kebiasaan terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama adalah yang akan berangkat ke kota Madinah terlebih dulu, dan kemudian tinggal beberapa hari di sana, selanjutnya berangkat ke kota suci Makkah. Sehingga untuk jamaah haji kelompok pertama ini, awal ibadah hajinya dari kota Madinah dan mengambil miqotnya adalah di Dzul Hulaifah. Untuk kelompok kedua, mereka langsung menuju kota Makkah, dan mengambil miqotnya di Yalamlam yang jaraknya sekitar 10 menit sebelum mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Sehingga start pelaksanaan ibadah hajinya (niat ihramnya) sejak berada di atas pesawat terbang.

Adapun manasik haji Tamattu’ yang dituntunkan Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:
1. Ketika jamaah telah berada di miqot, maka mandilah sebagaimana tata cara mandi junub, dan pakailah wewangian (parfum) bila memungkinkan. Mandi tersebut berlaku juga untuk wanita yang sedang haidh dan nifas. Bagi kelompok kedua yang niat ihromnya dimulai saat di atas pesawat terbang, maka mandinya dapat dilakukan di tempat tinggal terakhir menjelang penerbangan.

2. Selanjutnya pakailah kain ihrom yang terdiri dari dua helai (yang lebih afdhal berwana putih); satu helai disarungkan pada tubuh bagian bawah dan yang sehelai lagi diselempangkan pada tubuh bagian atas. Bagi kelompok kedua yang niat ihromnya dimulai ketika berada di atas pesawat, maka pakaian ihromnya bisa dikenakan menjelang naik ke atas pesawat atau setelah berada di atas pesawat, dengan jeda waktu yang agak lama dengan miqot agar saat melewati miqot dalam kondisi telah mengenakan pakaian ihrom. Adapun bagi wanita, tidaklah mengenakan pakaian ihram seperti tersebut di atas, akan tetapi mengenakan pakaian yang biasa dikenakan dengan kriteria menutup aurat & sesuai dengan aturan syar’i.

3. Selanjutnya saat berada di miqot, berniatlah untuk ihrom melakukan umroh dengan mengatakan:
“Aku sambut panggilanMu untuk melakukan umroh.”
Kemudian dilanjutkan dengan ucapan talbiyah:
“Aku sambut panggilanMu Ya Alloh, aku sambut panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, aku sambut panggilanMu. Sesungguhnya segala pujian, ni’mat dan kerajaan hanyalah milikMu, tiada sekutu bagiMu.”
Dan perbanyaklah bacaan talbiyah (umroh) ini dengan suara yang lantang bagi laki-laki dan suara lirih bagi wanita di sepanjang perjalanan ke Makkah, dan berhentilah talbiyah ketika menjelang thowaf. Hindarilah talbiyah secara bersama-sama (berjamaah), karena yang demikian itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW dan para shahabatnya ra.

Di antara hal-hal yang harus diperhatikan saat berihrom adalah sbb :
a.Menjalankan segala hal yang telah diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti shalat lima waktu dan kewajiban-kewajiban yang lainnya.
b.Meninggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah SWT di antaranya; kesyirikan, perkataan kotor, kefasikan, berdebat dengan kebathilan, dan bentuk kemaksiatan lainnya.
c.Tidak boleh mencabut/memotong rambut dan kuku, namun tidak mengapa bila rontok atau terkelupas tanpa sengaja.
d.Tidak boleh menggunakan wewangian baik pada anggota tubuh atau kain ihrom. Dan tidak mengapa jika ada bekas wewangian yang dikenakan sebelum melafazhkan niat ihrom.
e.Tidak boleh berburu binatang atau pun membantu orang yang berburu.
f.Tidak boleh mencabut tanaman yang ada di tanah suci, dilarang meminang wanita, menikah, atau pun menikahkan.
g.Tidak boleh menutup kepala dengan sesuatu yang menyentuh (kepala tersebut) bagi laki-laki dan boleh memakai payung, berada di bawah pohon, ataupun dibawah atap kendaraan.
h.Tidak boleh menggunakan pakaian yang sisi-sisinya melingkupi tubuh (baju, kaos), imamah (sorban), celana, dan lain sebagainya.
i.Diperbolehkan memakai sandal, cincin, kacamata, walkman, jam tangan, sabuk, dan tas yang digunakan untuk menyimpan uang, data penting dan  lainnya.
j.Diperbolehkan mengganti kain yang dipakai atau mencucinya, juga diperbolehkan membasuh kepala dan anggota tubuh lainnya.
k.Tidak boleh (bagi yang sudah berniat haji) melewati miqotnya dalam keadaan tidak menggunakan pakaian ihrom.
Jika larangan-larangan ihrom tersebut dilanggar, maka dikenakan dam (denda) dengan menyembelih hewan qurban (seekor kambing/sepertujuh unta/sepertujuh sapi).

4. Bila sudah tiba di Makkah (Masjidil Harom) maka pastikan jamaah telah bersuci dari hadats (sebagai syarat thowaf, menurut madzhab yang kami pilih).

5. Lalu selempangkan pakaian atas ke bawah ketiak kanan, dan pundak kanan terbuka serta pundak kiri tetap tertutup.

6. Selanjutnya lakukan thowaf sebanyak 7 putaran. Dimulai dari Hajar Aswad dengan memposisikan Ka’bah di sebelah kiri, sambil mengucapkan “Bismillahi Allohu Akbar.” Dari Hajar Aswad hingga kembali ke Hajar Aswad lagi, terhitung 1 putaran.
a.Disunnahkan berlari-lari kecil (raml) pada putaran pertama hingga ke 3 pada thowaf qudum.
b.Disunnahkan setiap kali mengakhiri putaran (ketika ada di antara 2 rukun: Yamani dan Hajar Aswad) untuk membaca:
 “Ya Alloh, limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari azab api neraka.”
c.Disunnahkan juga setiap kali tiba di Hajar Aswad untuk mencium atau memegangnya kemudian mencium tangan yang digunakan untuk memegang hajar aswat tersebut, atau pun memberikan isyarat saja dengan tangan (tanpa dicium), sambil mengucapkan: ‘Allohu Akbar’ atau ‘Bismillahi Allohu Akbar’ 
d.Disunnahkan juga setiap kali tiba di rukun yamani untuk menyentuh/mengusap tanpa dicium dan tanpa bertakbir. Dan bila tidak dapat mengusapnya maka tidak disyariatkan mengusapnya.

e.Bila terjadi keraguan terkait jumlah putaran Thowaf, maka ambillah hitungan yang paling sedikit.
7. Seusai Thowaf, tutuplah kembali pundak kanan dengan pakaian/selendang atas anda, kemudian melakukan sholat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim (tempat berdirinya Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah) walaupun agak jauh darinya. Dan bila kesulitan (tidak memungkinkan) untuk mendapatkan tempat di belakang Maqam Ibrahim persis maka tidak mengapa shalat di bagian mana saja dari Masjidil Haram. Disunnahkan dalam rakaat pertama membaca surat AlFatihah dan AlKafirun, kemudian pada rakaat kedua membaca surat Al-Fatihah dan AlIkhlash.

8. Kemudian meminum air zam-zam dan siramkan sebagiannya pada kepala.

9. Lalu mencium/memegang Hajar Aswad bila memungkinkan, dan tidak dituntunkan untuk berisyarat kepadanya.

10. Setelah itu berjalan ke bukit Shofa untuk bersa’i. tiba di Shafa membaca:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ
“Sesungguhnya Shofa dan Marwah itu termasuk dari syi’ar-syi’ar Allah.” (Al-Baqarah: 158)
“Aku memulai (Sa’i) dengan apa yang dimulai oleh Allah (yakni Shafa dahulu kemudian Marwah, pen.).”

11. Kemudian jamaah menghadap ke arah Ka’bah (dalam keadaan posisi masih di Shafa), kemudian mengucapkan :
“Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah tiada sekutu bagiNya, hanya milikNya segala kerajaan dan pujian, Dzat yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan serta Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Alloh semata, yang telah menepati janjiNya, memenangkan hambaNya dan menghancurkan orang-orang bala tentara kafir tanpa bantuan siapa pun.”
Do;a ini dibaca sebanyak 3 kali. Setiap kali selesai dari salah satunya, disunnahkan juga untuk berdoa memohon kepada Alloh SWT segala apa yang kita inginkan.

12. Kemudian berangkat menuju Marwah, dan ketika melewati antara dua tanda hijau percepatlah jalan anda lebih dari biasanya. tiba di Marwah lakukan seperti apa yang dilakukan di Shofa (sebagaimana yang terdapat pada point ke 11 di atas). Dengan demikian sudah terhitung satu putaran. Lakukan hal yang sama seperti ini sebanyak 7 kali (dimulai dari Shofa dan diakhiri di Marwah).

13. Seusai Sa’i, melakukan tahallul dengan mencukur rambut kepala secara merata (bagi pria) dan bagi wanita dengan memotong sepanjang ruas jari dari rambut yang telah disatukan. Dengan bertahallul semacam ini, maka anda telah menunaikan ibadah umroh dan diperbolehkan segala sesuatu dari mahzhuratil Ihram (hal-hal yang dilarang ketika berihram).

14. Tanggal 8 Dzul Hijjah (hari Tarwiyah), merupakan babak kedua untuk melanjutkan rangkaian ibadah haji anda. mandi dan pakailah wewangian pada tubuh serta kenakan pakaian ihrom.

15. Setelah itu berniatlah ihrom untuk haji dari tempat tinggal anda di Makkah, seraya mengucapkan:
“Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan ibadah haji.”
Kemudian lantunkanlah ucapan talbiyah :
“Kusambut panggilanMu Ya Alloh, kusambut panggilanMu tiada sekutu bagiMu, kusambut panggilanMu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milikMu tiada sekutu bagiMu.”
Dengan masuknya niat ihrom haji ini, berarti anda harus menjaga diri dari segala mahzhuratil ihrom sebagaimana yang terdapat pada point ke 3.

16. Kemudian berangkat menuju Mina untuk mabit (menginap) di sana. Setiba di Mina dirikan sholat yang 4 rakaat (Dzuhur, Ashar, dan ‘Isya) menjadi 2 rakaat (qashar) dan dikerjakan pada waktunya masing-masing (tanpa dijama’).

17. Ketika matahari telah terbit di hari 9 Dzul Hijjah, berangkat menuju Arofah (untuk wukuf). Perbanyaklah talbiyah, dzikir dan istighfar selama perjalanan anda menuju Arafah.

18. Setiba di Arofah (Ingat ! pastikan bahwa anda benar-benar berada di dalam areal Arofah), Maka manfaatkan waktu anda dengan memperbanyak doa sambil menghadap kiblat dan mengangkat tangan, serta dzikrulloh. Karena saat itu anda sedang berada di tempat yang mulia dan di waktu yang sangat mulia (mustajab) pula. Dan Sebaik-baik bacaan yang dibaca pada hari itu adalah:
“Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Alloh tiada sekutu bagiNya, hanya milikNya segala kerajaan dan pujian, dan Dia adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3585, dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.1503)
Dan selebihnya jamaah bisa membaca tuntunan doa-doa Nabi SAW yang anda kehendaki. Lakukanlah amalan mulia di atas hingga matahari terbenam. Adapun shalat Dzuhur dan Ashar di Arofah, maka keduanya dikerjakan di waktu Dzuhur (jama’ taqdim) 2 rakaat – 2 rakaat (qashar), dengan satu adzan dan dua iqomat.

19. Saat matahari terbenam, berangkat menuju Muzdalifah dengan tenang sambil terus menerus melantunkan talbiyah. Setiba di Muzdalifah, melakukan sholat Maghrib dan ‘Isya di waktu ‘Isya (jama’ ta`khir) dan diqoshar (Maghrib 3 rakaat, ‘Isya 2 rakaat), dengan satu adzan dan dua iqomat. Lalu bermalam di sana hingga waktu shubuh. Setelah mengerjakan sholat shubuh, perbanyak doa dan dzikir sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan, hingga waktu  mulai terang (sebelum matahari terbit).

20. Selanjunya (sebelum matahari terbit), berangkat menuju Mina sambil terus bertalbiyah. Bila ada para wanita atau orang-orang lemah yang bersama anda, maka diperbolehkan bagi anda untuk mengiringi mereka menuju Mina di pertengahan malam. Namun melempar jumrah tetap dilakukan setelah matahari terbit.

21. Saat tiba di Mina (tanggal 10 Dzul Hijjah) maka kerjakanlah hal-hal berikut ini:
- Melempar jumrah Aqabah dengan 7 batu kerikil (sebesar kotoran kambing) dengan bertakbir pada tiap kali lemparan. Pastikan tiap lemparan yang anda lakukan mengenai sasarannya.
- Menyemblih Hadyu (hewan kurban), makanlah sebagian dagingnya serta sedekahkanlah kepada orang-orang fakir yang ada di sana. Boleh juga penyembelihan ini diwakilkan kepada petugas resmi dari pemerintah Saudi Arabia yang ada di Makkah dan sekitarnya. Jika tidak mampu membeli atau menyembelih hewan kurban, maka wajib puasa tiga hari di hari-hari haji (boleh dilakukan di hari-hari Tasyriq, namun yang utama dilakukan sebelum tanggal 9 Dzul Hijjah/hari Arafah) dan tujuh hari setelah pulang ke kampung halaman.
- Memotong atau menyukur seluruh/sebagian rambut kepala anda, dan mencukur habis lebih utama. Adapun perempuan cukup memotong sepanjang ruas jari dari rambut kepalanya yang telah disatukan.
Demikianlah urutan paling utama dari sekian amalan yang dilakukan di Mina pada tanggal 10 Dzul Hijjah tersebut, namun tidak mengapa bila didahulukan yang satu atas yang lainnya.

22. Apabila anda telah melempar jumroh Aqobah dan menggundul (atau mencukur rambut), maka berarti anda telah bertahallul awal. Sehingga diperbolehkan bagi anda untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang ketika berihram, kecuali satu perkara yaitu bercampur dengan isteri.

23. Menggunakan wewangian, kemudian berangkat ke Makkah untuk melakukan thowaf ifadhah/thawaf haji (tanpa lari-lari kecil pada putaran ke 1 hingga ke 3), berikut Sa’i-nya. Dengan selesainya amalan ini, berarti anda telah bertahallul tsani dan diperbolehkan kembali bagi anda seluruh mahzhuratil ihram.
Catatan Penting: Thowaf ifadhoh boleh diakhirkan, dan sekaligus dijadikan sebagai thowaf wada’ (thawaf perpisahan) yang dilakukan saat hendak meninggalkan kota suci Mekkah.

24. Setelah melakukan thowaf ifadhoh pada tanggal 10 Dzul Hijjah tersebut, jamaah kembali ke Mina untuk mabit (bermalam) di sana selama tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah (hari-hari tasyriq). Tidak mengapa bagi anda untuk bermalam 2 malam saja (tanggal 11 dan 12 nya/nafar awal).

25. Selama 2 atau 3 hari dari keberadaan anda di Mina tersebut, lakukanlah pelemparan pada 3 jumrah yang ada; Sughro, Wustha, dan Aqobah (Kubra). Pelemparan jumroh pada hari-hari tersebut dimulai setelah tergelincirnya matahari (setelah masuk waktu Dzuhur), hingga waktu malam.
Caranya: Sediakan 21 buah batu kerikil (sebesar kotoran kambing). Lalu melaksanakan ke jumroh Sughra dan lemparkan ke arahnya 7 butir batu kerikil (satu demi satu) dengan bertakbir pada setiap kali pelemparan. Pastikan lemparan tersebut masuk tepat ke dalam sasaran. Bila ternyata tidak masuk, maka ulangi lemparan tersebut meskipun dengan batu yang didapati di sekitar anda. Setelah selesai, majulah sedikit ke arah kanan, lalu berdirilah menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan anda untuk memohon (berdoa) kepada Allah SWT  segala apa yang anda diinginkan. Lalu setelah itu melakukan jumrah Wustha. Setiba di jumrah Wustha, lakukanlah seperti apa yang anda lakukan di jumroh Sughra. Setelah selesai, majulah sedikit ke arah kiri, berdirilah menghadap kiblat, dan angkatlah kedua tangan anda untuk memohon (berdo’a) kepada Allah SWT segala apa yang diinginkan. Lalu pergilah menuju jumroh Aqobah. Setiba di jumrah Aqobah, lakukanlah seperti apa yang anda lakukan di jumrah Sughro dan Wustho. Setelah itu, tinggalkanlah jumroh Aqobah tanpa melakukan do'a padanya.

26. Bila anda ingin mabit 2 malam saja di Mina (tanggal 11 dan 12 Dzul Hijjah), maka keluarlah dari Mina sebelum terbenamnya matahari tanggal 12 Dzul Hijjah, tentunya setelah anda melempar 3 jumrah yang ada. Tetapi jika matahari telah terbenam dan anda masih berada di Mina, maka wajib untuk bermalam lagi dan melempar 3 jumrah di hari ke 13 nya (yang lebih afdol adalah mabit 3 malam di Mina/nafar tsani). Diperbolehkan bagi orang yang sakit atau pun lemah yang benar-benar tidak mampu melakukan pelemparan untuk mewakilkan pelemparannya kepada orang yang dapat mewakilinya. Sebagaimana diperbolehkan pula bagi orang yang mewakili, melakukan pelemparan untuk dirinya kemudian untuk orang yang diwakilinya diwaktu dan tempat yang sama (dengan batu yang berbeda).

27. Dengan selesainya anda dari kegiatan melempar 3 jumroh pada hari-hari tersebut (baik mengambil nafar awwal atau pun nafar tsani), berarti telah selesai pula dari kewajiban anda mabit di Mina. Sehingga diperbolehkan bagi anda untuk meninggalkan kota Mina & kembali ke hotel atau maktab masing-masing yang ada di kota Makkah
.
28. Jika anda akan meninggalkan kota Makkah (baik yang akan melanjutkan perjalanan ke kota Madinah atau pun yang akan melanjutkan perjalanan ke tanah air), maka lakukanlah thowaf wada’ dengan pakaian biasa saja/bukan pakaian ihram dan tanpa Sa’i, kecuali bagi anda yang menjadikan thowaf ifadhoh sebagai thowaf wada’nya maka harus bersa’i.
Demikianlah bimbingan manasik haji Tamattu’ yang kami ketahui berdasarkan dalil-dalilnya yang shohih dari Rasulullah SAW serta keterangan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Semoga taufiq dan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu tercurah kepadai kita semua, sehingga diberi kemudahan untuk meraih predikat haji mabrur, yang tiada balasan baginya kecuali Al-Jannah.
Amin Ya Mujibas Sa`ilin.

Sumber Bacaan:
1. At-Tahqiq wal-Idhah Lilkatsir Min Masa`ilil Hajji wal Umrah waz Ziyarah, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
2. Hajjatun Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam Kama Rawaha ‘Anhu Jabir radhiyallahu ‘anhu, karya Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani.
3. Manasikul Hajji Wal ‘Umrah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Al-Manhaj limuridil ‘Umrah wal Hajj, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
5. Shifat Hajjatin Nabi, karya Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu.
6. Dalilul Haajji wal Mu’tamir wa Zaa‘iri Masjidir Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Majmu’ah minal ‘Ulama, terbitan Departemen Agama Saudi Arabia.
 (Dikutip dari tulisan Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc., judul asli Manasik Haji Untuk Anda.

INFORMASI PROGRAM BIAYA PAKET UMROH PROMO HOTEL BINTANG 5

Back To Top